Belum ada judul
Ketika kedekatan menjadi kejauhan. Keakraban berubah menjadi kecanggungan. Ikatan memunculkan perbedaan. Perubahan semakin memperjelas jarak perbedaan. Saat kurangnya komunikasi merapuhkan kepercayaan diri. Semakin lama semakin terasa asing sendiri, seakan yang hidup di dunia ini hanya diri sendiri. Ironi, inilah kenyataan yang harus dijalani. Tidak perlu menyesali, menangisi, ataupun berkecil hati, itu semua hanya akan merugikan diri sendiri.
Lebih baik bebaskan pikiran dan hati untuk selalu memotivasi diri.
Karena sesungguhnya motivator terhebat di dunia ini hanya diri kita sendiri.
Kita sendiri yang memiliki.
Kita sendiri yang menjalani.
Kita sendiri pula yang menanggung jawabi.
Saat diri mulai bisa memahami dan menerima kenyataan pada diri sendiri, maka saat itulah, kebanggaan yang membahagiakan akan selalu kita dapati.
Mungkin sakit ? atau sulit ?
Sesulit-sulitnya watak seseorang, akan lebih sakit dan sulit lagi jika ia sendiri tidak ada keinginan untuk merubah watak buruknya.
Menjadi hebat itu tidak harus selalu menang, melainkan tetap bertahan dan berjuang disaat orang-orang menertawakan sebagai pecundang. Tidak ada seorangpun yang bertindak tanpa sebab. Ada sebab, maka ada alasan yang mungkin menjadi suatu tujuan. Alasan biasa diartikan sebagai suatu penghindaran, namun ada alasan yang bisa berartikan suatu dorongan pencapaian, jika alasan tersebut lebih mengarah pada tujuan positif. Dan yang membedakannya adalah, benar atau salah cara merealisasikannya.
Terkadang kita tidak sadar akan tindakan kita sendiri.
Kita ini orang baik yang berlagak jahat ?
Atau orang jahat yang berlagak baik ?
Apapun itu, janganlah menyesali yang sudah terjadi. Hidup ini sederhana, kita mengambil keputusan, dan jangan menyesalinya lagi.
Jangan menyepelekan hal sekecil apapun, karena mungkin hal yang kita anggap sepele, merupakan hal penting bahkan berharga bagi orang lain.
Tidak fatal bagi kita, belum tentu tidak fatal pula bagi korban kesalahan kita. Jika ingin memperbaiki kesalahan kita, maka mulailah dengan merubah pola pikir kita terlebih dulu.
Jangan menilai sesuatu hanya dari sisi sesuka hati kita, karena kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Kita hidup berdampingan dengan orang lain yang saling memiliki emosi, selera, dan kebutuhan yang berbeda-beda, tetapi tetap saling membutuhkan satu sama lain. Maka mulailah buka pola pikir kita dengan memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang diinginkan orang lain.
Ketika kita bisa bertahan dengan ujian bertubi-tubi.
Ketika kita terus berusaha dan tetap teguh dengan visi-misi kita.
Tidak peduli bagaimana kita terseok-seok sekarang.
Tetaplah kuat, jangan lemah, dan terlalu bergantung (kecuali pada Tuhan kita), jadilah yang tahan akan terpaan. Yakinkan saja, semuanya akan bermuara pada kemenangan, karna semua hal akan terasa dari keyakinan dalam diri, Insya Allah suatu saat nanti akan terjadi.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




No comments:
Post a Comment